Wahana Antariksa Tiangong di Pasifik

Wahana Antariksa Tiangong-1 akhirnya jatuh di Samudera Pasifik. Titik jatuh stasiun luar angkasa China ini berada di utara dari ‘Nemo Point’. Nemo Point sendiri adalah “kuburan” bagi wahana antariksa yang telah pensiun.

Biasanya wahana antariksa yang pensiun itu akan diarahkan untuk jatuh ke titik ini. Beberapa wahana yang dikuburkan ditempat ini diantaranya laboratorium ruang angkasa milik Rusia, Mir. Wahana dengan berat 120 ton ini diarahkan untuk mendarat di tempat ini pada 2001 lalu.

Begitu juga dengan pesawat kargo tanpa awak yang kerap membawa logistik ke Stasiun Antariksa Internasional, seringkali dijatuhkan di tempat ini.

Rencananya, Stasiun Luar Angkasa Internasional yang juga akan dikubur didasar samudra ini. Wahana antariksa seberat 420 ton itu rencananya akan pensiun pada 2024.

Disebutkan juga sudah sebanyak 250 hingga 300 wahana ruang angkasa telah dijatuhkan di tempat itu.

Letak ‘Nemo Point’

Titik Nemo sendiri sangat terpencil dari daratan. Pulau ini berada di 2.415 kilometer di selatan Selandia Baru, barat laut dari Pulau Paskah, dan ada di utara pulau Maher yang merupakan bagian dari Kutub Selatan.

Bila dilihat di peta, maka Titik Nemo berada dipit tiga benua yaitu benua Australia, benua Amerika (bagian selatan), dan benua Antartika.

Tapi Nemo disini bukan berdasarkan nama ikan badut yang ada di kartun buatan Pixar. Tapi, diambil dari novel Jules Verne berjudul 20.000 Leagues Under The Sea. Nama Nemo ini diambil dari nama kapten kapal selam di novel itu.

Selain itu Nemo dalam bahasa Latin berarti “tidak seorang pun”. Dinamakan demikian karena lokasi tersebut jauh dari manapun.

“Fitur yang menarik sebagai tempat masuknya satelit yang terkendali (karena) tidak ada orang yang tinggal disana,”ujar Stijn Lemmens, seorang ahli puing-puing luar angkasa dari Agensi Luar Angkasa Eropa (ESA) di Darmstadt, Jerman.

“Kebetulan, di lokasi itu juga keragaman hayatinya tak terlalu banyak, maka tempat itu makin sering digunakan sebagai tempat sampah satelit…terutama bagi pesawat kargo ruang angkasa,” lanjutnya seperti dilansir oleh Phys.

Ubah material wahana antariksa

Terkait dengan jatuhnya stasiun luar angkasa China, Tiangong-1, para ahli berinisiatif untuk merancang agar wahana antariksa lebih mudah terbakar di luar angkasa. Hal ini dilakukan untuk menghindari tabrakan di daratan saat mereka diturunkan ke bumi saat tugas mereka selesai.

Untuk itu, para ahli akan merancang agar material wahana antariksa ini meleleh di suhu yang lebih rendah. Sehingga, kebanyakan material wahana akan terbakar atmosfer sebelum menyentuh permukaan bumi.

Sebagai contoh, NASA dan ESA mengganti bahan tangki bahan bakar pesawat ulang-alik dari titanium menjadi alumunim. Bahan ini dirasa lebih mudah hancur dalam puing-puing yang lebih kecil dan tidak membahayakan manusia saat akan jatuh, seperti dilansir Outerplaces.

Releated Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *