Komitmen Hari Kesadaran Autisme Sedunia 2018

Pada hari ini, Senin (2/4), dunia merayakan ‘World Autism Awareness Day’ atau Hari Kesadaran Autisme Sedunia. Ditetapkan PBB sejak 2007 silam, peringatan hari ini menjadi momen untuk menumbuhkan kesadaran dan komitmen masyarakat dunia dalam mendukung para penyandang autisme dan menentang diskriminasi terhadap mereka.

Dilansir dari situs resmi PBB, Antonio Guterres, Sekjen PBB menuturkan tahun ini, Hari Kesadaran Autisme Sedunia menyoroti pentingnya pemberdayaan wanita dan anak perempuan penyandang autisme.

“Mereka menghadapi berbagai macam tantangan termasuk benteng untuk mengakses pendidikan dan dunia kerja secara adil dengan yang lain, penolakan hak reproduksi dan kebebasan untuk mengambil keputusan, serta kurang terlibat dalam pembuatan kebijakan terkait hal yang jadi perhatian mereka,” kata Antonio seperti dikutip dari situs resmi UN.

Di Jakarta sendiri, peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia dirayakan Yayasan Autisma Indonesia (YAI) dengan turut berpartisipasi dalam kampanye global ‘Light it Up Blue’. Selama sebulan, Monumen Nasional (Monas) disebutkan akan diselimuti cahaya biru. Selain Monas, patung HI dan simpang Susun Semanggi disebutkan juga akan diselimuti cahaya biru sepanjang April 2018.

Tak hanya di Jakarta, landmark kota lain yang turut berpartisipasi antara lain Tugu Kujang, Lawang Salapan dan Balaikota di Bogor, Jawa Barat.

Sorot lampu warna biru menjadi tanda solidaritas pada para penyandang autisme. Cahaya biru ini juga melambangkan pesan, harapan dan penyertaan bagi penyandang autisme.

Autisme sendiri merupakan gangguan perkembangan pada anak yang berakibat tidak dapat berkomunikasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain terganggu. Kondisi yang dialami seumur hidup ini tak memandang jenis kelamin atau ras.

Dikutip dari UN News, autisme ditandai dengan cara interaksi sosial yang unik. Penyandang autisme tak memiliki cara belajar layaknya anak-anak pada umumnya. Mereka memiliki ketertarikan mendalam pada objek tertentu, kecenderungan untuk berubah-ubah kebiasaan, dan cara tertentu dalam mengolah sensor informasi.

Yayasan Autisma Indonesia lewat situs resmi mereka menyebut autisme hingga kini penyebabnya belum ditemukan. Namun, ada yang menyebut bahwa faktor genetik dan pengaruh buruk lingkungan merupakan penyebab autisme.

Kesempatan pendidikan bagi para penyandang autisme sebenarnya tak berbeda dengan mereka yang bukan penyandang autisme. Tiap individu berbeda sehingga ada yang dapat meraih pendidikan tinggi atau hanya sebatas dilatih.

Releated Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *